Sueneeng banget dikirimi madumongso dan wingko non-produksi industri rumahan oleh keluarga di Kabuh, Jombang, Jawa Timur. Baru kali ini merasakan wingko buatan perorangan, rasanya jauh lebih lezat, tentu.
Wingko terbuat dari kelapa parut muda dicampur tepung beras. Aku mengenalnya dengan nama Wingko Babat, dan kukira memang nama generiknya. Setelah dewasa aku baru sadar bahwa wingko yang sering kusantap dimasa kecilku kami beli di stasiun Babat, dalam perjalanan liburan ke rumah eyang ke Surabaya naik kereta api Limex atau Bima. Karena itu sering disebut Wingko Babat. Konon industri wingko di kota kecil Babat ini mendorong ekonomi di tempat itu.
Madumongso dibuat dari tape hitam difermentasi, santan dan gula jawa. Dulu biasa kujumpai dalam stoples eyang putriku saat lebaran. Kiriman keluargaku tadi sama legitnya dengan yang kuingat dari zaman eyang. Bedanya sekarang dibungkus dengan kertas crepe, zaman dulu kertas minyak warna-warna. Perbedaan lain adalah yang ini dilapisi plastik rekat (cling wrap) dulu sebelum bungkus crepe, sehingga minyak tidak menempel. Makanan jadul yang dibungkus dengan sentuhan modern (zaman dulu tak ada cling wrap).
Dari satu blog keluarga Cupang, Tulungagung (cupangkolam.wordpress.com), kutemukan resep madumongso. Kusalin plek persis seperti tertulis di blog tsb.:
Bahan :
1 kg ketan hitam dibikin tape
1/2 kg gula aren/Jawa
Santan dari 1 butir kelapa ukuran besar
Cara Pengolahan :
1. Rebus santan bersama gula aren/Jawa hingga mendidih dan berminyak, dalam bahasa Jawa disebut moto ulo.
2. Setelah rebusan bersifat moto ulo maka tape ketan bersama badeg nya (badeg adalah air hasil fermentasi tape) dimasukkan dan diaduk-aduk hingga bersifat kalis atau bisa dipilin. Air badeg ikut dimasukkan supaya menghasilkan aroma Madu Mongso yang khas.
3. Setelah adonan bisa dipilin, angkat dan dinginkan. Setelah dingin baru dibungkusi dengan kertas minyak atau plastik bercorak agar menarik.
Monday, February 4, 2013
Thursday, January 17, 2013
Kaleng Kosong Cantik Bunyinya
Terselip di antara buku2ku di rak, adalah kaleng yang sudah peyot di sana sini, dengan enamel terkelupas di beberapa tempat. Seputar tubuhnya digambari figurine bertopeng dengan baju begitu fashionable, dan tetap modis di tahun 2012 ini. Sepertinya mereka sedang berpesta tahun baru.
Kaleng ini membawaku jalan-jalan ke perbatasan outer dan inner London, tepatnya di suburban bernama Mitcham. Alkisah di tahun 1600-an banyak orang terkenal bermukim di daerah ini, seperti penyair, pemikir, eksplorer: Sir Walter Raleigh. Tahun 1897, James Pascal, seorang wirausaha confectionery -pembuat permen dan coklat- memindahkan usahanya ke jalan ini. Sampai sekarang, masih eksis.
Terus, hubungannya dengan kaleng bagaimana? Sebentar, sabar sahabat. Aku baru saja hampir ke bagian itu.
Walaupun si kaleng telah jadi bagian dari warga rumahku beberapa tahun, aku tak pernah terlalu memberinya perhatian dalam. Sampai suatu hari Minggu koran Kompas bercerita tentang komunitas pecinta kaleng. Aku teringat kaleng bututku dan meneliti tubuhnya. Ini yang kudapat
Kata "Mitcham" kota yang kugambarkan di atas, menjadi bagian dari tulisan di pantat (maaf) kaleng:
"Manufactured by James Pascall Limited, Mitcham. England..
Tulisan ini membentuk setengah lingkaran mengelilingi tulisan berikut:
Pascall
White Heather
Chocolates and toffees
1 lb net
Chocolates and toffees
1 lb net
Enam puluh dua tahun lalu, satu dari ribuan kaleng permen yang diproduksi di pabrik Pascall, Mitcham, London ini menyebrangi benua dan lautan dan sampai ke Madiun. Isinya, berupa 'hopjes' (ibu menyebut toffee atau permen karamel demikian), dinikmati satu keluarga dengan dua anak di Balerejo, kota itu, dimana sang ayah sedang bertugas sebagai asisten wedana. Anak perempuan dari kedua bersaudara itu cantik sekali (menurutku dan orang2 yang mengenalnya). Dalam daftar takdir Tuhan, ternyata ditetapkan menjadi ibuku.
Nenekku, meninggal tiga tahun lalu. Aku tak sempat menanyai almarhumah bagaimana kaleng ini bisa sampai ke Madiun. Biarlah tetap jadi teka-teki.
♥♥♥Aku tumbuh bersama benda ini. Saat ibu menikah, ibunya membekali satu set perhiasan, dan ditempatkan dalam kaleng ini. Bertahun-tahun kemudian, karena fungsinya, wadah perhiasan, kaleng ini bersembunyi di balik lipatan kain di lemari baju. Mungkin ini sebabnya kaleng ini begitu misterius sekaligus mempesonaku dari kecil.
Sekali sekala aku melihat ibu
mengeluarkannya, mengambil salah satu penghuni kaleng dan mengenakannya sebagai
pelengkap berkebaya saat kondangan. Momen seperti ini kutunggu-tunggu, karena
bisa bertemu dengan 'temanku', si kaleng. Sambil menemani ibuku memasang
sanggul dan berias, aku duduk di tempat tidur, memutar-mutarnya dan
memperhatikan gambar figurine. Di sekelilingku akan terbentang berbagai
warna selendang beserta beberapa corak jarik/kain panjang batik, menunggu
dipilih ibu untuk padanan kebaya hari itu. Jika ibuku sedang murah
hati, kadang aku diizinkan mengeluarkan isi kaleng satu satu untuk mengagumi
bentuknya.
Orangtuaku bukannya kaya raya, dan
bukan tipe yang memamerkan diri lewat perhiasan. Karena itu perhiasan ibu tak
pernah berlimpah ruah. Namun setiap potong selalu didisain dengan indah. Di
setiap kota yang kami tinggali, ibu punya langganan pandai emas. Ibu biasanya
membawa guntingan gambar dari majalah dan katalog, berdiskusi dengan sang pande
yang kemudian akan menempa perhiasan sesuai keinginan ibu. Batu-batu
indah, rubi, safir, amethyst sering diberi atau dibeli ayah dari keluarganya
asal Martapura, daerah penghasil intan di Kalimantan Selatan. Yang aku paling
kenang berupa satu setel kalung, cincin dan anting berbentuk jalusi melengkung
dihiasi bulir-bulir mungil bermacam warna batu.
Setelah aku besar dan bisa
membeli sendiri perhiasanku (walau aku bukan pengkoleksi emas), aku lamat-lamat
sadar bahwa sepanjang hidupku tak pernah kulihat ibu 'mengidap'
keterikatan dengan kebendaan, termasuk para isi kaleng ini.
Seindah apapun perhiasan, tak
pernah ibu menyesalinya jika harus berpisah, dengan cara apapun: kehilangan,
kecurian atau - ini lebih jamak terjadi - dijual.
♥♥♥
Berat kaleng berfluktuasi,
tergantung fase yang tengah dilewati keluarga. Saat anak2 ibu masih
kecil-kecil, dan ada yang dapat disisihkan dari gaji ayah, maka isi kaleng
bertambah. Ketika akan membangun rumah sendiri (bertahun-tahun kami tinggal di
rumah yang disediakan perusahaan minyak tempat ayah bekerja), surut lagi
isinya, dilipat bakal modal beli tanah dan material. Lantas menabung lagi,
sehingga kembali berat kaleng bertambah. Setelah beranjak umur, ayah menderita
sakit, banyak keperluan, isi kaleng berpindah rumah, ditukar dengan lembaran
rupiah. Begitulah berat badan kaleng naik turun seperti grafik indeks harga
saham gabungan di Bursa Efek Jakarta.
Di usia tujuh puluh, ibu merasa
cukup dengan sedikit perhiasan tersisa. Tak perlu satu kaleng yang dapat memuat
satu pon coklat untuk menyimpannya. Maka kaleng dipensiunkan.
Saat ini kaleng tetap kosong,
berpindah fungsi menjadi penghias rak bukuku.
♥♥♥
Tepat 40 hari sebelum aku lahir,
untuk pertama kalinya seorang seniman belum punya nama berpameran tunggal di
satu galeri Los Angeles. Dengan cepat nama artis ini menanjak dan menjejakkan
brand dan alirannya dalam sejarah. Andy Warhol memajang tiga puluh dua lukisan
kaleng sup "Campbell' dengan ukuran dan bentuk umum hampir identik. Dunia
seni terguncang, sebagian murka, menganggap Warhol merendahkan derajat seni
dengan menampilkan sesuatu yang begitu biasa, begitu remeh seperti kaleng sup
Campbel yang dikonsumsi rakyat Amerika kebanyakan sehari-hari. Terutama
di masa itu.
Yang mereka tidak sadari adalah
cerita di balik kaleng sup ini. Di masa kecil Andy, ibunya berjualan bunga yang
dibuat dari guntingan kaleng untuk membantu menopang hidup. Dan di zaman Andy
berjuang agar diakui sebagai seniman, setiap hari Andy menyantap berbelas
kaleng sup saat sedang kerasukan bekerja di studio.
Kaleng bukan sekedar kaleng.
♥♥♥
Kalau kaleng begitu berarti buat
Andy Warhol, di rumah masa kecilku juga begitu. Namun benda bekas ini kami
simpan untuk alasan berbeda. Kaleng margarin Blueband (bergambar anak sedang
makan rot) yang sudah kosong diiris melingkar tutupnya, dimanfaatkan jadi
tangkringan saringan 'transit' makanan yang digoreng supaya minyak menitik ke
bawah. Kaleng biskuit Khong Guan menjadi tempat kerupuk. Atau kaleng biru segi
empat bekas biskuit Jacobs, dijadikan wadah alat-alat jahit. Tahun lalu, waktu
aku ke rumah adik nenekku di Malang, gembira sekali hati menemukan
rengginang yang disuguhkan dalam kaleng bekas butter cookies merek
Monde.
Aku jadi teringat akan
kaleng-kaleng dalam hidupku ini ketika membaca artikel Kompas yang mengupas
komunitas pecinta kaleng. Mereka sampai berburu kesana kemari untuk
mengumpulkan kaleng tua. Aku bisa memahami kemabukan mereka akan kaleng.
Tapi tak serta merta aku tergiur
menjadi kolektor kaleng bekas. Aku hanya memelihara kaleng yang menyimpan
cerita di baliknya. Seperti foto dalam tulisan ini: yang berwarna biru
langit dengan ornamen padang rumput (gambar kanan tengah) sebenarnya
adalah container yang mengemas cangkir teh istimewa lengkap dengan saringan.
Ini hadiah dari anggota team kantorku tercinta, Dini Sunardi yang pindah
mengikuti suami keMalaysia. Kaleng berbentuk bis double decker, dibeli anakku
sebagai oleh-oleh waktu pulang study tour ke Hongkong. Kaleng berbentuk mobil
warna merah beroda, masih berisi kue kering ketika kubeli untuk menghibur hati
saat anakku sakit.
Pada dasarnya, kaleng-kaleng kupajang untuk mendeklarasi sudut pandangku. Bahwa satu pajangan, berhak mendapat tempat terhormat dan dirawat di rak bukuku, tidak ditentukan oleh nilai nominalnya, tapi oleh cerita, sejarah, dan arti dibaliknya. Di pandanganku, kaleng berbentuk bis tingkat oleh2 anakku bukti perhatian dan cintanya, lebih berharga dari keramik antik dinasti Ming. Kaleng bekas tempat cangkir teh yang menandai persahabatanku dengan Dini, jauh lebih bermakna ketimbang kristal Bohemia berpinggir emas.
Karena itu, kaleng penyok tua
bergambar figurine bertopeng yang aku ceritakan di atas tadi, jauh lebih
berharga sekarang, daripada ketika masih diisi oleh setelan perhiasan emas ibu.
Aku beruntung memperoleh pelajaran
hidup dari ibu lewat kaleng ini, bahwa yang tak kasat mata seringkali
invaluable.
Tak terbeli.
YA,
Jakarta, December 30th, 2011
Friday, December 21, 2012
Pintu Riuh
Jalan KH Wahid Hasyim belahan yang "sono'an, sesudah pertemuan banyak jalan, bagiku seperti lubang intip ke dunia oom dan tante-tante zaman Menteng menjadi trendsetter.
Di mulut jalan sederetan toko masih beruntung tidak diutak-atik oleh kapital cukong besar (belum?).
Di ujung paling kanan ada toko kelontong yang tak pernah sepi, persis di samping Kantin Rujak Cingur Pak Hadi. Aku sedang beli rawon dan soto, ketika aku terhenti oleh serumpun object depan pintu biru toko kelontong ini.
Seperti puisi....
Di mulut jalan sederetan toko masih beruntung tidak diutak-atik oleh kapital cukong besar (belum?).
Di ujung paling kanan ada toko kelontong yang tak pernah sepi, persis di samping Kantin Rujak Cingur Pak Hadi. Aku sedang beli rawon dan soto, ketika aku terhenti oleh serumpun object depan pintu biru toko kelontong ini.
Pak Dayat dan Kedai Rokok Bulat
Dunia Pak Dayat terasa hangat. Ukurannya mungil, berupa kios rokok bercat putih di ujung jalan KH Wahid Hasyim dekat Bank Universal, perapatan dengan jalan Cemara. Gordijn di pintu masuk, transistor, jam dinding di atas kepala Pak Dayat membantu menciptakan hawa rumah di ruang sempitnya. Kiosnya unik, berbentuk 'hampir' sirkular serba simetris.
Meninggalkan tanah kelahiran Surabaya di tahun 1962, Pak Dayat berpindah-pindah sampai akhirnya melempar jangkar di kota tua Jacatra yang sekarang kita panggil Jakarta.
Dan bukan karena kios terlalu nyaman sehingga Pak Dayat sudah cukup lama tidak pulang ke kota asalnya. "Saya malu kalau pulang ndak bawa uang cukup. Tapi saya cukup senang karena bisa hidup dengan harga diri. Itu pesan bapak saya".
'Harga diri' yang disebut Pak Dayat dalam bahasa sederhanya kupahami sebagai sesuatu yang hakiki dan mahal: martabat, dignity. Kompas dari ayah yang sudah meninggal di jaman Jepang, tak aus menuntun Pak Dayat menjalani keseharian di dunia keras Jakarta - berurusan dengan preman, tukang palak, keributan jalanan, hidup dari hari ke hari.
Pelajaran buatku bisa datang dari mana saja. Kali ini datang dari petarung dan pengarung hidup kenyang asam garam seperti Pak Dayat. Matur nuwun. Sehat2 selalu ya.
Thursday, December 13, 2012
PADU PADAN KETAN
(dari seri “My Love Affair with Food”)
Rumah eyangku di jalan Diponegoro Surabaya berbentuk gerbong kereta api di ingatanku. Walaupun terletak di jalan besar, rumah Pakpuh dan Bupuh (begitu aku memanggil eyang2ku, singkatan dari bapak sepuh dan ibu sepuh) - orang tua ibuku ini, tidak terlalu luas, menyempit ke belakang. Di samping rumah ada gang ke arah perkampungan di belakang. Tahun tujuh-puluhan tersebut, gang banyak diisi oleh pedagang pikulan, pengemudi becak, rumah sementara bagi mereka yang merantau dari desa mengadu nasib di kota.
Kami selalu tidur di kamar utama, terletak paling belakang, yang berbau khas kayu dan kertas tua ini (aku masih ingat ranjang besar besi dengan tiang-tiang di keempat pojok untuk menggantung kelambu) serta berpintu yang membuka ke belakang, langsung menghadap samping rumah kayu mbah Hadi. Mbah Hadi suami isteri dekat sekali dengan kami. Aku lupa mbah Hadi yang perempuan mengerjakan apa, yang jelas kami berlangganan becak dengan Mbah Hadi yang lelaki.
Sedini itu aku ter-convert menjadi pengagum ketan.
♥♥♥
Ketan yang saudara kandung beras di tanah lain disebut sebagai beras lengket (sticky rice), beras bergluten (glutinuous rice), beras manis(sweet rice), beras berlilin (waxy rice), atau beras mutiara (pearl rice). Sisa2 kuliahku dulu di teknologi pangan (yang sayup2 teringat) menginformasiku bahwa, pati atau karbohidrat dibentuk oleh si kembar amilosa dan amilopektin. Yang pertama memberi fitur keras dan amilopektin menjadikannya kelat, lengket. Ketan beramilosa kurang dari 1 persen, sementara beramilopektin tinggi. Makanya saling melekat. Kabarnya, ini juga yang menyebabkan ketan lebih membuat tahan kenyang, mengisi porsi perut lebih besar.
Setidaknya itu yang dipercayai oleh orang-orang Laos (dan Thailand utara) sehingga memilih ketan sebagai staple food, makanan pokok. Aku baru tahu tentang ini saat menonton program teve Nat Geo berjudul Food School, mengenai perjalanan mengunjungi sekolah-sekolah masak di berbagai negara, mempelajari masakan lokal. Hostnya, eks editor majalah Gourmet (sudah almarhum, majalahnya lho, bukan orangnya) Ruth Reichl, dalam episode di Laos menunjukkan betapa di negeri ini ketan dimakan dengan sayur, kuah kari, daging, dsb., layaknya nasi di tempat lain.
♥♥♥
Aku bersyukur makanan pokok kita bukan ketan. Memasak ketan tidak sesederhana mencuci beras, mencemplungkannya ke rice cooker dan tinggal ‘cetek’ menyalakannya. Ketan seperti saudara beras yang manja, perlu perlakuan hati-hati. Direndam, cuci, rendam lagi, baru dikukus. Waah, kesuwen rek…
Dalam pikiranku, sarapan lebih istimewa daripada saat-saat lain, bagai ritual yang perlu upaya ekstra, dinikmati sebisanya dalam ketergesaan untuk memulai aktivitas - merayakan hari baru.
Dan di seputar Nusantara, sarapan dengan ketan sejamak rumput di lapangan bola (aduh, maksa ya? Apa dong? Ini kan lawan idiom: “mencari jarum di jerami” alias susah dicari… hehehe…).
Dari Aceh aku diceritai oleh kawan-kawanku pedagang kopi bahwa lazimnya di daerah mereka, menyeruput kopi pagi hari ditemani pulut. Di Makasar, menu sarapan bisa songkolo, ketan hitam ditaburi serundeng dan teri plus sepotong telur asin.
(gambar: Tiap kali ke pasar Mayestik, ketupat ketan dimasak dalam santan ini selalu kucari)
![]() |
Di Padang, ketan sering disantap dengan pisang goreng panas, atau sarikayo yang gurih legit. (Begitu menjalin eratnya ketan dengan kebiasaan sarapan di Padang, sampai-sampai (kudengar) dijadikan ungkapan: “Seperti sarapan ketan tanpa kelapa”. Artinya kurang lebih seperti paralelnya di Inggris: ‘bangun di sisi ranjang yang salah’ (wake up on the wrong side of the bed) atau ‘hari rambut jelek’ (bad hair day). Kurang lebih artinya, bangun pagi dan semuanya jadi salah, tidak seperti yang diharapkan. Gitu deh.)
Ketan juga tampil dalam beragam bentuk. Dalam loyang cetakan menjadi dasar untuk ditumpangi adonan telur, gula dan tepung beras warna-warni menjadi berbagai jenis talam (di kampung ayahku, Banjarmasin disebut wadai).
(gambar: Ketan plus pisang goreng Bopet Mini Pasar Benhil)
| Lepat ketan berisi pisang, versi Ubud, dibawakan oleh juru pijat, Bli Agung |
Namun padu padan ketan aku kenal pertama kali lewat Ayahku yang asli Banjarmasin. Almarhum memperkenalkanku kepada ketan putih kukus dengan macam-macam variasinya: dengan rendang, abon ikan, kolak pisang duren, daging buah duren, atau bahkan sekedar ditabur kelapa. Ketan khas ayah yang paling sering hadir di rumah masa kecilku sederhana sekali, hanya berteman telur asin.
♥♥♥
![]() |
(gambar: Ketan Sarikayo Bopet Mini Pasar Benhil)
Saturday, December 8, 2012
FEMALE CHEF PERTAMAKU: MIA MADRE *
(Serial My Love Affair With Food)
Aku tumbuh dengan mempercayai bahwa dunia masakan - makanan adalah teritori perempuan. Dan dewa dapur adalah dewi, alias perempuan.
Ibuku, contohnya, kupikir salah satu titisan dewi tersebut. Meskipun selesai sekolah hukum, selain banyak bakat lainnya, ibu juga terkenal di kalangan yang mencintainya untuk magicnya di dapur. Menggunakan timbangan, gelas ukur, sendok takar, termometer dan timer - beliau menciptakan berbagai kue mueh lezat. Kami tumbuh besar di kota2 minyak - Sungai Gerong, Lirik, Pendopo (Sumsel), Dumai, Duri, Rumbai (Riau), Sanga-Sanga (Kalimantan). Di sini tidak ada bakery, jajanan dan restoran terbatas, hanya menyediakan hamburger, kentang goreng dan masakan Amerika lainnya. Kalau mau makan enak harus pergi keluar kompleks. Maka terasahlah ketrampilan kuliner para ibu di sini. Walaupun terpencil, acara sosial ibu-ibu ini padat - mulai dari coffee morning, kegiatan Women's Club, kanasta, belum lagi harus menghibur keluarganya dengan macam-macam penganan. Intinya, para ibu ini saling menghibur dan mengandalkan satu sama lain. Begitu juga dalam hal resep. Di buku resep ibu selalu ada catatan kecil; resep Lorry, Wolly dsb. Nama-nama teman ibu tentunya. Aku pernah menyimpan buku kumpulan resep "Duri Women's Club" terbitan tahun 70 an akhir. Di setiap resep tertulis nama kontributornya.
♥♥♥
Mmmmmm.... Menggiurkan bukan? |
♥♥♥
| Halaman yang menyirami imajiku, dan mencetus cintaku akan kuliner |
"Tolong ambilkan buku coklat mami".... Instruksi ini kami semua sudah hafal dan paham. Bukan buku tentang coklat, tapi yang covernya dari karton tebal warna coklat (sekarang buku jenis ini tak keluar lagi). Di dalamnya ada gambar-gambar sketsa kue yang diwarnai pakai pensil kelir, ada juga yang berupa potongan gambar majalah. Betapa gambar-gambar ini telah memberikan aku kesenangan hanya dengan memandanginya waktu aku kecil dulu. Salah satunya berupa kue berselaput krem yang ditancapi pohon miniatur berupa ranting. Lalu digantungi macam-macam lolipop dan permen.
| Kue Tart Boneka |
Dan sungguh, kue ini akhirnya diwujudkan pada salah satu ulang tahunku. Di mataku kue ini semakin magical karena batangnya yang dari perak. Well, bukan sungguhan sih. Oleh ibuku ranting-ranting ini dibalut kertas aluminium, sehingga berkilau-kilau magis.
Guratan kelir warna oleh ibu di atas buku resep berupa boneka dengan rok dari kue tart ini juga dengan tongkat ajaib ibuku hadir beberapa kali dalam keluarga kami. Lintas generasi bahkan. Bukan hanya aku dan adik-adik yang pernah dengan bangga meniup lilin yang ditancapkan ke rok kue princess ini. Anakku dan keponakan2ku juga mendapat kebahagiaan yang sama. Barusan aku menunjukkan gambar ini ke anakku. Ia bilang, "Iya ingat, ma, Ajeng punya warna pink. Dianti dapat yang ungu".
Aku bisa tak habis-habis bercerita tentang buku coklat tua yang halamannya menguning-coklat itu. Bukan hanya karena usianya, tapi juga jejak cipratan telur, coklat bubuk, gula halus, mentega, minyak.... Beberapa halaman harus 'memar' karena harus dipisah dengan paksa dengan lainnya karena melekat. Ada juga halaman yang sudah membeku garing karena zat-zat yang tak seharusnya menempel malah bersenyawa, membuatnya berderuk-deruk ketika dibalik.
Salah satu adikku, Emmy, bilang: "Mana mbak, buku coklat itu, biar aku scan lembar-lembarnya". Belum jadi kuberikan, sekarang sedang ada di tanganku. Aku bahkan punya ide lebih aneh lagi.... Dilaminating setiap lembar !! Tidak terlalu outrageous juga sih ide kami ini, mengingat betapa banyak kebahagiaan yang diberikan ibu dibantu catatan-catatan di lembaran berharga ini.
Akhir-akhir ini, seperti yang kukatakan di atas, buku ini lebih sering menganggur. Bukan berarti ibu berhenti menyenang-nyenangkan hati kami-kami. Waah, jauh !! Menunjukkan cinta lewat perut itu sudah jadi moto keluarga kami. Hanya saja sekarang menggunakan e-resep lewat e-buku masakan, alias lembar-lembar internet. (Beberapa hari lalu aku baru bertelponan dengan ibu. Beliau baru mencoba resep baru somay. Dari mana mam? tanyaku. "Dari google nak", jawab ibuku. Mom, you have come a loooong way... Hehehe).
Di bawah ini adalah satu kreasi terakhir ibuku. Satu hari beliau dikirimi berkilo-kilo telo ungu (dari teman keluarga) dan mangga masak puun (dari yours truly, yana). Karena di rumah hanya ada ibu dan adikku Dina berdua saja, kedua bahan tadi terasa berkelimpahan. Oleh ibu diolah menjadi es krim . Di bawah ini resep yang beliau modifikasi dari resep van internet:
Jakarta 8 Desember 2012
♥♥♥ ♥♥♥ ♥♥♥ ♥♥♥ ♥♥♥ ♥♥♥ ♥♥♥
Note: * Mia madre = my mother = ibu saya
♥♥♥
Akhir-akhir ini, seperti yang kukatakan di atas, buku ini lebih sering menganggur. Bukan berarti ibu berhenti menyenang-nyenangkan hati kami-kami. Waah, jauh !! Menunjukkan cinta lewat perut itu sudah jadi moto keluarga kami. Hanya saja sekarang menggunakan e-resep lewat e-buku masakan, alias lembar-lembar internet. (Beberapa hari lalu aku baru bertelponan dengan ibu. Beliau baru mencoba resep baru somay. Dari mana mam? tanyaku. "Dari google nak", jawab ibuku. Mom, you have come a loooong way... Hehehe).
Di bawah ini adalah satu kreasi terakhir ibuku. Satu hari beliau dikirimi berkilo-kilo telo ungu (dari teman keluarga) dan mangga masak puun (dari yours truly, yana). Karena di rumah hanya ada ibu dan adikku Dina berdua saja, kedua bahan tadi terasa berkelimpahan. Oleh ibu diolah menjadi es krim . Di bawah ini resep yang beliau modifikasi dari resep van internet:
Es Krim Mangga
1 cup whipping cream
1 cup susu
1 biji mangga diblender
gula semanisnya.
Semua bahan dicampur dengan food processor atau blender. Bekukan dalam kotak plastik.
(Variasi Es Krim Telo Ungu, sama seperti resep di atas,
hanya saja mangga diganti telo ungu dikukus dan dihaluskan.)
♥♥♥ ♥♥♥ ♥♥♥ ♥♥♥ ♥♥♥ ♥♥♥ ♥♥♥
Note: * Mia madre = my mother = ibu saya
Wednesday, December 5, 2012
Pak Djohan dan Dunia Eks Kwitang
Adakah teman yang tahu, kemana para pedagang buku Kwitang pergi? Sampai 24 jam yang lalu, aku sama sekali tak punya ‘clue’.
Tapi kemarin, potongan dunia yang bagiku penting itu, balik lagi ke hidupku.
♥♥♥
Kemarin aku ke Blok M Square, untuk berburu warung kopi Aceh yang diceritakan temanku. Rencanaku, ngopi, bikin riset sedikit (nanti aku share di cerita lain), lalu pulang. Semua rencana kacau. Aku pulang lebih lambat dari yang aku rencanakan dan mengacak-kadulkan budget yang sudah dirinci, ‘gara-gara’ kepincut lantai ground yang dihuni komunitas Eks Kwitang. Ternyata ke sinilah mereka bedol desa. Lebih dari tiga jam aku berenang-renang di dunia Pak Yos John Preky (namanya digantung olehnya di atas kartu bergambar gadis Eropa. Please lihat gambar), Mas Ipung yang punya kios bernama Bumi Nusantara, Mas Bagus yang seperti ensiklopedia berjalan, dan Pak Djohan.
Yang kusebut terakhir ini, sesepuh komunitas ini. Sebelum 5 tahun di sini ia telah 27 tahun berdagang di Kwitang, lalu berputar-putar, setahun di penampungan, di Senin, dan beberapa tempat lain, sebelum akhirnya berumah di Blok M. “Saya ikut berjuang lama untuk mempertahankan agar kami tidak dipindah dari Kwitang. Bahkan sampai ke kantor gubernur segala. Sebetulnya kan tidak terlalu mengganggu, kan disana tidak macet. Hanya saja memang mengganggu pandangan mata banyak pejabat yang melalui daerah tersebut”, tutur Pak Djohan tanpa kesan pahit. Menurut beliau ada 130 kios yang akhirnya berpindah kemari.
"Apakah cukup laris?" tanyaku. "Yah, dibandingkan dengan Kwitang, jauh lah mbak... Tapi saya masih selalu optimis". Aku terkagum-kagum karena September lalu usianya sweet seventeen terbalik (istilahnya sendiri) alias 71 tahun. Dan semangatnya masih berkobar-kobar. Kharisma sekaligus kerendah-hatiannya terasa. Aku tahan berjam-jam mendengarkan cerita beliau yang disampaikan dengan sederhana ini.
Contohnya ini, cerita mengenai terjualnya 60 buah buku Ensiklopedia Filsafat (entah Britanica atau Americana, ia lupa) di awal tahun 80-an, yang harus diangkut pakai vespa tuanya. "Wah, seru, depan, muka belakang, penuh buku yang dipak" Pak Djohan mengingat-ingat. Ia berboncengan dari Tebet tempat tinggalnya ke tempat janji bertemu dengan pembelinya, di depan apotek Titi Murni. "Dulu di situ ada warung kopi Al Furqon, tahu kan?" (Aku mengangguk cepat-cepat supaya cerita berlanjut). Cerita ini memang jadi istimewa karena pembelinya juga spesial, seorang penyair, seniman teater yang juga pemilik toko buku.. "Saat itu dia baru muncul di televisi. Dia telpon saya 'nih, saya baru terima honor 270 ribu, 100 ribu buat anak buah. Saya ada sisa 170 ribu nih. Kalau mau, ini buat ensiklopedia filsafat itu"..."Duit segitu dulu besar banget jumlahnya" Lanjut pak Djohan "Nah, kebetulan saya lagi butuh duit, ya saya langsung cepat-cepat bungkus deh tu buku-buku". Beliau tertawa-tawa mengenang masa-masa indah itu.
♥♥♥
Pak Djohan asli Minangkabau, tapi hanya pernah menginjak tanah leluhurnya itu selama setengah hari dalam hidupnya, saat kakaknya meninggal dunia. Bahasa Jawanya, Sunda dan berbagai dialek, luwes dimainkannya. Tapi ia menegaskan, Minang tetap jatidirinya. Ini yang kudeteksi pada dirinya, keyakinannya akan siapa dirinya. Pekerjaan sebagai broker buku bekas, kulihat dikuasainya dalam. "Pak, saya sedang mengkoleksi buku Prof. Sartono Kartodirdjo, bapak punya gak?"... Jawaban beliau sungguh lancar, "Pemberontakan di Banten ataukah Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia?" Bukan hanya judul, isinya pun fasih dibahasnya. Beliau menceritakan betapa dulu di antara pelanggannya ada Mr. Sunaryo, Adam Malik, Suryono Sukanto, HB Jasin dan banyak nama besar lain. Beliau sudah agak lupa ketika diminta mengulang, tapi koleganya yang lebih muda, pemilik kios tetangga (aku lupa namanya), dengan tangkas menyambung dengan nama2 tokoh zaman Orla dan Orba. Aku jadi terkesan dan menanyakan, dari mana tahu, karena ia masih muda tampaknya. Ia menjawab: "Pak Djohan mengajari kami banyak hal. Banyak yang puluhan tahun telah bergaul bersama dengan beliau."
♥♥♥
Koleganya, pedagang lain yang lebih muda2 dibanding beliau ikut ngeriung ngobrol. Sesekali aku minta izin memotreti, mencoba merekam momen ini.
"Saya biasanya gak mau mbak, dipotret. Saya bilang, eeeh, itu kan ada hak ciptanya. Tapi entah kenapa sama mbak Yana kok saya gak keberatan". Mas Bagus, tetangga yang berjualan di seberang lorong, nyeletuk: "Itu persoalan nyaman dan ndak nyaman. Sekarang ini beliau merasa nyaman".
Mas Bagus, dan teman-temannya mengakui bahwa Pak Djohan adalah pembimbing, suhu mereka. Pak Djohan hanya senyum-senyum mendengar ia dianggap mentor. Tapi aku percaya yang dikatakan mereka betul. Ada dua insiden yang mungkin sekali adalah indikator kebenaran ucapan mereka. Satu, setelah aku beli beberapa buku dari beliau, dia dengan halus mengarahkan aku untuk membeli buku lain yang aku cari di tempat tetangga2nya. Rezeki rupanya tak ingin dia 'peluki' sendirian. Kedua, anak2 muda pemilik kios lain menunjukkan perilaku mirip beliau, membantu pembeli, mendengarkan, tak hanya asal buku terjual. Dan terlebih-lebih begitu begitu menguasai dunianya. Bukan hanya penulis dan penerbit, tahun penulisan, topik, disiplin ilmu, cabang-cabangnya, topik-topik khusus, peneliti, tahun penerbitan dst., khatam mereka lahap.
Misalnya waktu aku menimbang-nimbang ingin membeli buku tua "History of Jakarta"nya Susan Abeyasekere, yang mahal banget, Mas Bagus menawarkan solusi, "kalau yang ibu perlukan adalah isinya, maka tidak usah beli yang ini, beli saja yang telah diterjemahkan oleh Komunitas Bambu. Tak sampai duaratus ribu kok bu. Memang gaya menterjemahkannya berbeda, para intelektual lebih suka terjemahan jadul ini". Berhubung aku tidak merasa intelektual akupun puas dengan terbitan Komunitas Bambu saja. Wah, aku seperti sedang pergi ke dokter spesialis yang sanggup memindai kebutuhanku dan mencari jalan keluar. Hmmmm.... berintegritas pula, tak hanya asal bisa menjual. Intuisiku bilang ini value diantara banyak lainnya yang ditularkan oleh Pak Djohan ke generasi penerus.
♥♥♥
Sebelum aku bertemu mereka, kupikir berjualan buku second hand itu sub bagian dari berdagang. Tapi Pak Djohan dan 'murid-murid’nya menyadarkanku bahwa aku mungkin salah. Lebih dari berdagang, para penjual ex Kwitang ini memaknai profesinya berbeda. Berbelas, berpuluh tahun mereka dikelilingi jutaan kata-kata yang ditulis oleh banyak orang baik yang masih hidup atau almarhum. Pengetahuan dan wisdom dari pikiran orang2 ini membentuk alam pikiran mereka. Buku2 juga bukan sekedar dipajang dan dijual tapi juga dicintai, dirawat, dan dibaca!! Ini penting, karena, lebih dari sekedar menjual, bapak-bapak ini seperti laiknya dokter atau lawyer memberi advis, tips, solusi, konsultasi kepada calon pembeli sebelum akhirnya buku berpindah ke rak pemilik baru.
Mudah-mudahan aku gak geer, tapi waktu aku menaiki tangga meninggalkan lantai itu, aku punya intuisi kuat bahwa aku dapat teman-teman baru.
Subscribe to:
Posts (Atom)
















