Saturday, June 1, 2013

DONAT, MAKIN KAMPUNGAN, MAKIN ASOY...


Happy sekali pagi ini dibawakan mbak yang bantuin di rumah, delapan buah donat kampung (difoto sudah berkurang 3, karena berpindah ke perut. Yang paling belakang juga sebetulnya juga sudah coak separo, aku gigit. Lingkar pinggangku betul2 terancam keselamatan dan kesehatannya).

Apakah aku yang lebay ga suka donat yang "industrialized" seperti Krema, Dunkin Doughnut, yang jelas donat kampung ini di lidahku terasa superior. Tidak seperti donat canggih yang ringan dan empuk, versi ini lebih padat dan tidak berbentuk lingkaran seragam sempurna. (Kalau mau lebih lebay lagi, ini seperti contoh kecil dari filosofi 'sempurna dalam ketidaksempurnaan".)

Sering kulihat donat kampung ini dijual bareng cakue dan kue bantal atau bolang baling, karena adonan dasarnya sama. Biasanya dijajakan di gerobak dorong yang mangkal dan digoreng di tempat. Tapi donat kampung yang paling mak-nyes di hatiku dijual bapak-bapak usia 50 an (itu sekitar 10 tahun lalu), yang berkeliling menjajakan kue2 kampung dari rumah ke rumah. Anakku Ajeng paling suka donat ini, jadi seminggu sekali kusiapkan buat sarapan di hari weekend.

No comments:

Post a Comment