Sunday, June 2, 2013

WARTEG WARMO



Hidup kita paling banter, sepanjang-panjangnya berapa lama sih? Kalau beruntung bisa lewat 70 tahun. Selama itu, kalau hanya mengandalkan pengamatan, olahan indera, pikiran dan perasaan semata-mata, maka pengalaman kita akan terbatas. Kata mentorku, mendiang Neil Leiper, pengalaman kita yang terbatas ini bisa diekstensifikasi lewat apa yang diserap dan di"godog" orang lain baik melalui buku, pembelajaran, sharing, diskusi, rujukan dan sebagainya. Titik-titik ini bisa jadi pintu menguak dunia baru di baliknya, yang ternyata penuh dengan hal yang memperkaya kita.

Tapi Titik yang menguak pintuku (5 thn. lalu) ke dunia Warung Warmo dengan mengajakku kesini pertama kali, sama sekali berbeda.... Tidak berfungsi untuk membuat garis, Titik yang ini bergerak-gerak dan cantik. Temanku Titik ini juga mempercantik hidupku dengan mengajariku untuk mengapresiasi sesuatu yang begitu biasa - sebuah warung tegal - dengan meng-zoom in hal-hal yang tak biasa. Sudah pasti tak biasa, karena serupa magnet, menarik antrian pengunjung setiap hari yang datang dengan berbagai modus, mulai dari jalan kaki, bis dan mobil mewah.

Deretan lauknyapun tak biasa, baik jenisnya, ukurannya maupun kualitasnya (maksudku tentu, uenak). Pada satu sisi dinding etalase berbaris berbagai lauk ikan dengan rupa-rupa cara memasaknya - ada fillet ikan goreng kuning (ini yang paling sexy di mataku), ada bandeng goreng, bawal bakar dst. Pe-tagihanku (kalau ada kata pesugihan, boleh dong ada pe-tagihan?) ada di tengah etalase paling depan. Bertahta di sini, primadona Warteg Warmo: cumi utuh, udang dalam kulit dan paru iris tebal, ditusuki tusuk sate, yang semuanya montog, dibumbui dan digoreng sempurna. Ajaibnya masakan di Warteg Warmo ya inilah, bagaimana kita semua terpukau akan rasa dan teksturnya, sehingga bisa memaafkan kenyataan bahwa "iwak-iwak" ini sudah tidak panas lagi.

Tadinya kukira Warmo itu singkatan dari Warung Mojok, karena terletak di pengkolan dekat pasar Tebet. Kalau sang bapak pemilik warung dengar tentang dugaanku ini, aku pasti sudah dijewer kiwir-kiwir - Warmo itu nama beliau ! Dan saat bertemu beliau pertama kali dua malam lalu (aku beruntung,sebab tidak pernah jumpa sebelumnya, walaupun sering kemari), aku untuk sejenak takut betul bakal dijewer, meilihat raut si Bapak yang terkesan tidak bersahabat.

Aku salah. Pak Warmo ini ramah sekali. Dan rendah hati, seperti lazimnya pengusaha warteg lain, sesukses apapun. Hemmm aku mendeteksi ada teman pembaca yang memutar bola mata ke atas: pengusaha warteg? sukses?

Well, sukses dengan parameter yang mana? Dalam ukuranku, sukses adalah menjalankan usaha yang langgeng (Warteg Warmo berdiri dari tahun 1969), menjadi jalur bagi rezekinya orang banyak (ada dua outlet lagi, tak jauh dari tempat sekarang, dan satu lagi di Bogor, dua-duanya dikelola keluarga), dan mempertahankan kualitas produknya (konsisten enak dan rasanya walaupun tanpa sistem yang baku ala mc dee )

(Sebenarnya menggunakan parameter bottom line sekalipun, pengusaha warteg ini kebanyakan bisa digolongkan sukses. Aku kebetulan pernah punya pegawai yang ortunya pemilik warteg, rumah mereka di Tegal mewah dan besar. Tapi aku belum tertarik mengupas kesuksesan dari sisi materi. Mungkin di tulisan lain.)

Pak Warmo tidak pernah sekolah MBA, tentu saja. Jadi kalau bicara kiat bisnis, tidak akan canggih-canggih amat. Namun aku curiga, jangan-jangan ini kiatnya : kesederhanaan. Pengusaha warteg terkenal dengan disiplin spartan-nya. Aku tahu dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana sederhananya hidup mereka saat merantau. Rupiah demi rupiah keuntungan dikumpulkan dengan cermat. Kedua, operasi warteg dipimpin -seperti kata Jim Collins, dalam bukunya "Good to Great" -dengan gaya level kepemimpinan kelima : humility - kerendah-hatian. Hal ini membuat pengusaha warteg bisa menahan diri untuk tidak bergaya hidup inggil, walaupun mampu (menurut detik.com, sehari bisa beromzet 2,5 juta. Tapi saya pikir angka itu untuk konsumsi petugas pajak. Menurutku paling sedikit 4 juta sehari).

Yang ketiga menarik untukku. Pengusaha warteg memiliki sistem yang belum kulihat di tempat lain, pengelolaan warung digilir. Seperti di sini, Pak Warmo akan pulang kampung tanggal 1 Juli nanti, digantikan oleh abangnya, yang walaupun namanya tak dijadikan judul warung, sama integralnya ke dalam eksistensi Warteg Warmo semenjak 43 tahun lalu. Abang Pak Warmo ini akan memimpin armada selama 4 bulan ke depan, dan begitu seterusnya bergantian setiap kuartal.

Sistem sederhana ini signifikan untuk beberapa hal menurutku : pertama, ada nilai keseimbangan di dalamnya. Kegiatan mencari duit mati-matian di tengah kejamnya ibu tiri kota jakarta, diimbangi dengan mencari sejuk meredakan temperatur beberapa saat. Kedua, ada nilai tak serakah di dalamnya, yang membuat perkongsian berpuluh tahun ini bisa awet.

Well, nilai tak serakah ini terlihat di banyak sisi di Warung Warmo. Ukuran ikan fillet gorengnya yang setelapak tangan Mohamad ALi atau George Foreman (ketahuan ya usiaku, kenalnya cuman sama petinju jadul), atau udang molijg direnteng tusukan bambu, memastikan value for the money yang oke banget.

@@@

Kupikir-pikir, selama ini pemikiran rasional pragmatik Barat telah menjadi acuan berpuluh tahun untuk menjalankan bisnis. Hmmm, jangan-jangan jika kita mulai pede, mulai melihat ke dalam dan mengkaji khasanah bangsa sendiri, siapa tahu banyak wisdom perbisnisan yang bisa menjadi inspirasi? Misalnya manajemen rumah makan minang yang menerapkan sistem bagi hasil sedemikian, sehingga mendorong rasa kepemilikan yang besar dari siapapun yang terlibat. Hal ini, rasa kepemilikan, atau bahasa mahalnya, engagement, kan sesuatu yang selama ini dicari-cari jurusnya oleh pakar manajemen dan pengembangan organisasi (OD) berorientasi Barat, sehingga mengeluarkan uang begitu banyak untuk penelitian, eksperimen, konsultan, pelatihan dan belum lagi utak-atik struktur organisasi.

Dan siapa tahu jurus perkongsian ala warung tegal bisa dijadikan inspirasi untuk dikembangkan dalam bentuk yang lebih sesuai untuk template bisnis modern. Kata kuncinya memang inspirasi, tidak untuk ditiru begitu saja, perlu diadaptasi tentunya.

Well.....

Not all that glitters is gold...Tidak semua dari Barat adalah emas.....



1 comment: