Monday, June 3, 2013

DUA KUCING BERSAUDARA DAN IBU MAIMUNAH



Jalan Veteran I saat ini bersalin rupa tak ubahnya gadis anggun berkarakter, dengan deretan restoran berdekor nyeni serta tanaman gemuk terawat menghias trotoar. Namun di ujung, semua ini diawali oleh dua unit bangunan warna merah bata tak berpenghuni dan tak terawat. Selembar kain bertuliskan nomor telpon untuk calon penyewa, memeluk dinding bagian depan.

Aku duduk sepanjang sore bersama Ajeng dan pacarnya di Kopi Tiam, warung pertama di jalan itu, di sebelahnya.

Di depan gedung tua tak berpenghuni tadi, dua penjaja minuman duduk bersanding, dua-duanya berpasangan. Pasangan yang lebih muda meletakkan dagangannya di atas terpal yang dibentangkan di trotoar. Isterinya (?) duduk bersimpuh, sibuk dandan dengan sepotong kaca bulat -membetulkan bedak, alis dan gincu, tak peduli dengan sekitarnya seolah yang lewat tembus pandang.

Pasangan pedagang satu lagi telah berumur, dan kuingat telah lama "mangkal" di pojok itu. Selain minuman dingin, juga berdagang rokok, tissue dll. Seorang ibu tua, Maimunah, dengan celana hijau dan kerudung pink, kukira masih berkerabat. Ternyata bukan, juga berjualan minuman kopi dari sachet.

Aku memperhatikan sesorean bagaimana bisnis sejenis ini bersisian menjalankan upayanya tanpa saing bersaing- di teritori yang sama, menjual produk yang sama: minuman. Bisnis mereka terjaga karena suplai pelanggan yang pasti, para pegawai restoran sepanjang jalan itu (bahasa sok kerennya, captive market).

Seekor ibu kucing dan dua anaknya (putih abu dan belang tiga) dan seorang tukang parkir menggenapi komunitas ini. Si putih abu dan pak parkir menunjukkan kecenderungan yang sama, tidur sepanjang sore (lihat gambar, si putih abu di atas pot berisi palem pinang, dan si bapak parkir tersandar di balik dinding pembatas dengan Kopi Tiam). 

Kucing-kucing ini terlihat terawat dan berperilaku elok layaknya mahluk-mahluk yang cukup mendapat kasih sayang.Si belang tiga terutama, lincah dan percaya diri - asyik bermain dengan Ajeng anakku. Mereka ( tak termasuk Ajeng :-)) memang dirawat "kelompok" ini. Tapi waktu kutanya nama kucing2 ini, jawaban bersilangan - Bapak sepuh menjawab "Sumarlan" dan Ibu Maimunah menyebut "Manis". 

Ibu Maimunah membela jawabannya dengan menerangkan "Sumarlan bukan yang ini, sedang jalan. Yang memungut Manis dan Sumarlan namanya Ibu Uus, sekarang di panti jompo".

Tak tahu mana yang benar, namun kelihatannya Ibu Maimunah menggantikan posisi Ibu Uus. Kucing2 ini tunduk padanya. Ketika dipanggil si Ibu, mereka bereaksi dan kadang-kadang diajak berbicara oleh sang Ibu.

Pada gelas teh liang-ku yang ketiga, si putih abu terjaga, menggeliat, mengulet lalu mengeong. Ibu Maimunah memberitahuku bahwa si putih abu sedang memanggil saudaranya. Betul juga... si belang tiga segera berhenti bermain dengan anakku, berjalan menghampiri pot palem, melompat ke atasnya, kemudian mencari posisi pewe (posisi uwenak) melungker memeluk saudaranya.

Di sela asap rokoknya Ibu Maimunah menerangkan bahwa ia berasal dari Jawa (aku lupa kota apa), dan mengaku mengontrak rumah sendiri. Temannya tertawa "Kontrakannya tak pernah ditempati, wong dia ada disini terus. Ibu ini tak punya siapa-siapa" teman-temannya bergantian menjelaskan. Yang dibicarakan hanya tertawa menunjukkan giginya yang terpulas residu nikotin lalu menukas "saya punya anak tiga kok". 

Tidak jelas apakah Ibu Maimunah diurusi anaknya, karena ia telah empat puluh tahun meninggalkan kampung dan menjadi bagian dari jalanan Jakarta. Tak pula jelas apakah akhirnya Ibu Maimunah akan bergabung dengan Ibu Uus di panti jompo saat kekuatannya bertahan menghadapi tempaan Jakarta menjadi susut beberapa tahun nanti.

Yang tampak di mataku yang orang luar -memperhatikan interaksi mereka- Ibu Maimunah terlihat cukup nyaman di antara keluarga substitusinya, di pangkal jalan Veteran I -tiga di antaranya para kucing yang elok perilakunya ini.



No comments:

Post a Comment